Puji syukur, bulan Ramadhan kali ini Yayasan Nanda Dian Nusantara bersama PMII Komisariat Fakultas Dakwah kembali mengadakan Pesantren Kilat Ramadhan ke-12. Kegiatan ini dikhususkan bagi anak-anak kurang mampu dan anak jalanan se-Jabotabek pada 31 Agustus s/d 6 September 2009. Bertempat di Masjid Agung At-Tin pesantren kilat kali ini diikuti kurang lebih 200 peserta. Sebagaian dari mereka ada yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu, pengamen, pemulung, pedagang asongan dll. Bagaimana pun juga mereka punya hak atas pendidikan yang layak. Terutama pendidikan agama sebagi bekal dasar dalam hidup.
Sejak tahun 1998 Yayasan Nanda Dian Nusantara (NDN) dan PMII Komfakda secara kontinyu membuat kegiatan pesantren kilat setiap tahunnya. Dua belas kali penyelenggaran pesantren kilat bukan hal yang mudah bagi bagi Yayasan NDN dan PMII Komfakda. Tapi memang dunia advokasi anak jalanan, pendampingan kaum terpinggir dan pembangunan rumah singgah menjadi fokus Yayasan NDN dalam kiprahnya. Adapun PMII Komfakda pada dasarnya memiliki concern pada kegiatan sosial yang boleh dibilang sangat tinggi. Di ranah mahasiswa, PMII memang tak hanya bergerak di bidang pengembangan minat-bakat mahasiswa, latihan organisasi atau sekedar wadah interaksi belaka. Kepekaan sosial juga di asah dalam organisasi pergerakan mahasiswa yang lahir dari rahim NU ini.
Berikut ini adalah catatan harian kegiatan pesantren kilat ramadhan ke-12:
Jumat, 28 Agustus 2009: pukul 16.00 WIB panitia dan pendamping dari PMII bertemu dengan pihak Yayasan Nanda Dian Nusantara di Asrama Putri PMII. Agenda: pemantapan pendamping, penggambaran sekilas kegiatan sanlat, sekaligus buka bersama.
Roostien Ilyas
Minggu, 10 November 2013
Dari Pojok Empati
Ibu jangan cari aku/jika aku tidak/mengupas bawang/Ayah jangan marah dulu/kalau aku tidak/mengangkat barang/Beri ku kesempatan/sedikit waktu/tuk belajar…
Begitulah sebait lagu yang biasa dinyanyikan panitia-pendamping bersama para peserta sanlat yang kebanyakan adalah anak jalanan dan kurang mampu. Terdengar teramat menyayat memang. Namun, seperti itulah gambaran realita hidup para peserta yang dikepung kemiskinan. Sehingga mereka perlu 'meminta kesempatan sedikit waktu' kepada ayah dan ibu untuk belajar. Jika diperbandingkan, daripada menghabiskan waktu seminggu di sanlat, sebenarnya jauh lebih menguntungkan dan menghasilkan uang jika mereka bekerja. Entah itu 'mengupas bawang' atau 'mengangkat barang'. Ya, para peserta kebanyakan adalah pekerja anak sektor informal. Mayoritas telah putus sekolah. Jadi, sanlat adalah 'sedikit waktu' mereka tuk belajar. Bergembira. Beristirahat dari hiruk pikuk jalanan.
Adalah Yayasan Nanda Dian Nusantara pimpinan ibu Roostien Ilyas yang selama dua belas tahun konsisten menggelar acara pesantren kilat untuk anak jalanan dan kurang mampu. Dalam kiprahnya yayasan ini bergandeng tangan dengan PMII Komfakda UIN Jakarta. Tak banyak yayasan yang kemudian mampu bertahan dalam hitungan belasan tahun membuat kegiatan sosial serupa ini. Maka, walau sebenarnya tak ingin dipuji, acungan jempol layak kita berikan kepada YNDN dan PMII sebagai apresiasi atas kontribusi besar mereka selama ini.
Begitulah sebait lagu yang biasa dinyanyikan panitia-pendamping bersama para peserta sanlat yang kebanyakan adalah anak jalanan dan kurang mampu. Terdengar teramat menyayat memang. Namun, seperti itulah gambaran realita hidup para peserta yang dikepung kemiskinan. Sehingga mereka perlu 'meminta kesempatan sedikit waktu' kepada ayah dan ibu untuk belajar. Jika diperbandingkan, daripada menghabiskan waktu seminggu di sanlat, sebenarnya jauh lebih menguntungkan dan menghasilkan uang jika mereka bekerja. Entah itu 'mengupas bawang' atau 'mengangkat barang'. Ya, para peserta kebanyakan adalah pekerja anak sektor informal. Mayoritas telah putus sekolah. Jadi, sanlat adalah 'sedikit waktu' mereka tuk belajar. Bergembira. Beristirahat dari hiruk pikuk jalanan.
Adalah Yayasan Nanda Dian Nusantara pimpinan ibu Roostien Ilyas yang selama dua belas tahun konsisten menggelar acara pesantren kilat untuk anak jalanan dan kurang mampu. Dalam kiprahnya yayasan ini bergandeng tangan dengan PMII Komfakda UIN Jakarta. Tak banyak yayasan yang kemudian mampu bertahan dalam hitungan belasan tahun membuat kegiatan sosial serupa ini. Maka, walau sebenarnya tak ingin dipuji, acungan jempol layak kita berikan kepada YNDN dan PMII sebagai apresiasi atas kontribusi besar mereka selama ini.
Roostien Ilyas, Wanita Pejuang dan Penyejuk Hati
Jakarta - SI. Sekarang ini Indonesia mungkin tidak asing lagi dengan sosok wanita yang satu ini, cantik, cerdas, ramah, keibuan, penyayang, semua yang baik ada padanya, wanita yang di sapa dengan Bunda Roos ini adalah salah satu pekerja dan pemerhati sosial, terutama masalah anak – anak di Indonesia.
Sudah kurang lebih 23 Tahun, Bunda Roos menggeluti kegiatan sosial yang spesifik menangani masalah anak – anak, tepatnya sejak tahun 1990. Menurut Bunda Roos, Undang – undang Perlindungan Anak usia 0 hingga 18 tahun kiranya dapat mengingatkan kita semua tentang perlunya menjaga perkembangan mental anak – anak dari apa yang mereka lihat, baca dan dengar di lingkungan mereka, sifat anak - anak itu imitatif atau meniru. Siapa yang mereka tiru?
Sudah kurang lebih 23 Tahun, Bunda Roos menggeluti kegiatan sosial yang spesifik menangani masalah anak – anak, tepatnya sejak tahun 1990. Menurut Bunda Roos, Undang – undang Perlindungan Anak usia 0 hingga 18 tahun kiranya dapat mengingatkan kita semua tentang perlunya menjaga perkembangan mental anak – anak dari apa yang mereka lihat, baca dan dengar di lingkungan mereka, sifat anak - anak itu imitatif atau meniru. Siapa yang mereka tiru?
Ketika Merah Putih Berkibar di Kolong Jembatan
Biar saja ku tak seindah matahari...
Tapi selalu ku coba menghangatkanmu...
Merah Putih Teruslah kau berkibar...
Di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini...
Sepenggal lirik lagu Cokelat di atas sangat tepat untuk menggambarkan upacara bendera yang dilakukan anak-anak pemulung di Ciputat serta anak-anak kolong jembatan Jelambar binaan Roostien Ilyas dari Yayasan Nanda Dian Nusantara pada Sabtu, 21 Mei kemarin.
Foto: IstimewaFoto: IstimewaSejak pagi hari, mereka telah bersiap-siap mengikuti upacara bendera untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional di bawah kolong jembatan tersebut. Tak heran, anak-anak pemulung dari Ciputat rela datang jauh-jauh ke lokasi upacara.
Tapi selalu ku coba menghangatkanmu...
Merah Putih Teruslah kau berkibar...
Di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini...
Sepenggal lirik lagu Cokelat di atas sangat tepat untuk menggambarkan upacara bendera yang dilakukan anak-anak pemulung di Ciputat serta anak-anak kolong jembatan Jelambar binaan Roostien Ilyas dari Yayasan Nanda Dian Nusantara pada Sabtu, 21 Mei kemarin.
Foto: IstimewaFoto: IstimewaSejak pagi hari, mereka telah bersiap-siap mengikuti upacara bendera untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional di bawah kolong jembatan tersebut. Tak heran, anak-anak pemulung dari Ciputat rela datang jauh-jauh ke lokasi upacara.
Roostien Ilyas: Bagaimana Bisa Pencabulan Dianggap Biasa Saja
Ia adalah pekerja sosial, pemerhati anak, anggota Komnas Perlindungan Anak, dan Ketua Yayasan Nanda Dian Nusantara.
Tahun 1990 adalah awal Ibu Roostien mengawali perjuangannya. Berbagai hal telah dihadapi perempuan paruh baya ini, mendampingi anak-anak korban bencana, anak-anak korban konflik, dan anak-anak korban pemerkosaan, anak-anak yang kurang beruntung.
Ibu Roostien punya hati yang sangat besar, Ia meluangkan hampir seluruh waktu dan tenaganya membantu anak-anak yang masih polos. Sebagian anak-anak ini menjadi kotor akibat perlakuan orang dewasa. Pelacuran, pencabulan, children trafficking adalah masalah bersama masyarakat.
Ketika kita bicara mengenai kemandirian perempuan, tak bisa lepas dari apa yang akan kita wariskan bagi generasi muda Indonesia. Apa sikap Roostien Ilyas?
Mari siapkan mata untuk membaca, dan hati untuk mendengar...
Tahun 1990 adalah awal Ibu Roostien mengawali perjuangannya. Berbagai hal telah dihadapi perempuan paruh baya ini, mendampingi anak-anak korban bencana, anak-anak korban konflik, dan anak-anak korban pemerkosaan, anak-anak yang kurang beruntung.
Ibu Roostien punya hati yang sangat besar, Ia meluangkan hampir seluruh waktu dan tenaganya membantu anak-anak yang masih polos. Sebagian anak-anak ini menjadi kotor akibat perlakuan orang dewasa. Pelacuran, pencabulan, children trafficking adalah masalah bersama masyarakat.
Ketika kita bicara mengenai kemandirian perempuan, tak bisa lepas dari apa yang akan kita wariskan bagi generasi muda Indonesia. Apa sikap Roostien Ilyas?
Mari siapkan mata untuk membaca, dan hati untuk mendengar...
Lomba Peluk Ala Roostien Ilyas
TEMPO.CO, Jakarta - Bagaimana caranya mengajak orang tua yang untuk belajar memeluk anaknya? Khususnya mereka yang tak akrab dengan kebiasaan penuh kasih sayang ini karena terlalu sibuk dengan pekerjaan. "Saya lombakan," kata Ketua Forum Komunikasi Relawan Seluruh Indonesia, Roostien Fatimah Ilyas dalam acara Berbagai Pelukan Penuh Kelembutan Molto Ultra Pure di Gandaria City, Jumat, 18 Oktober 2013.
Roostien mengadakan lomba untuk merangsang 150 kepala keluarga yang tinggal di sekitar bawah kolong Jembatan Jelambar Jakarta Barat. Mereka adalah orang tua yang kebanyakan menggantungkan hidup di jalanan, dari kawasan kumuh dan tak akrab dengan sentuhan fisik kasih sayang. "Bahasa cinta itu mereka," kata dia. Bahasa kasih yang dipakai masyarakat tersebut adalah bahasa perintah, suruhan bekerja hingga hukuman.
Hingga di tahun lalu, Roostien memutuskan harus ada yang berubah dari para keluarga tersebut. Meski hidup mereka keras, bukan berarti kasih sayang juga keras untuk diperoleh anak-anaknya. Akhirnya, dengan iming-iming hadiah sembilan bahan pokok, Rooestin menggelar lomba memeluk anak. "Mereka pada kaget awalnya, apa sih buk, lomba kayak gini," kata dia menirukan komentar para peserta. Tapi karena hadiahnya menggiurkan bagi para warga, maka mereka pun sukarela ikut.
Roostien mengadakan lomba untuk merangsang 150 kepala keluarga yang tinggal di sekitar bawah kolong Jembatan Jelambar Jakarta Barat. Mereka adalah orang tua yang kebanyakan menggantungkan hidup di jalanan, dari kawasan kumuh dan tak akrab dengan sentuhan fisik kasih sayang. "Bahasa cinta itu mereka," kata dia. Bahasa kasih yang dipakai masyarakat tersebut adalah bahasa perintah, suruhan bekerja hingga hukuman.
Hingga di tahun lalu, Roostien memutuskan harus ada yang berubah dari para keluarga tersebut. Meski hidup mereka keras, bukan berarti kasih sayang juga keras untuk diperoleh anak-anaknya. Akhirnya, dengan iming-iming hadiah sembilan bahan pokok, Rooestin menggelar lomba memeluk anak. "Mereka pada kaget awalnya, apa sih buk, lomba kayak gini," kata dia menirukan komentar para peserta. Tapi karena hadiahnya menggiurkan bagi para warga, maka mereka pun sukarela ikut.
Roostien Ilyas : Malaikat Tanpa Sayap
Jakarta, Bisnis Global (Edisi April 2013) - Di semesta ini, selain manusia, jin, setan, dan makhluk lainnya, Tuhan juga menciptakan malaikat. Makhluk yang terbuat dari cahaya ini memang diciptakan untuk patuh pada perintah Tuhan. Pun dengan Roostien Ilyas. Perempuan kelahiran Madura ini bak malaikat yang menyinari jalan anak-anak jalanan.
Anak adalah aset negara. Dan pendidikan adalah warisan yang sangat mahal yang harus diserahkan kepada anak-anak. Maka, jika kelak anak-anak menjadi pemuda, sesungguhnya di situlah harapan negara yang berkeadilan bisa dicapai, tepat di pundaknya.
Konsep inilah yang dipahami perempuan bernama asli Roostien. Sejak 23 tahun yang lalu, Ia mengabdikan dirinya pada anak-anak jalanan yang hampir 99 persen menjadi pekerja sektor informal. Keaktifannya di kegiatan sosial dimulai sejak berkenalan dengan Ibu Nasution yang merupakan isteri (alm) Jenderal TNI A.H. Nasution. Bu Nas—sapaan Ibu Nasution— yang mengajarkan kepada Roostien bahwa masalah sosial itu bersifat universal, bukan cuma hadir di Indonesia saja tapi di semua negara.
Anak adalah aset negara. Dan pendidikan adalah warisan yang sangat mahal yang harus diserahkan kepada anak-anak. Maka, jika kelak anak-anak menjadi pemuda, sesungguhnya di situlah harapan negara yang berkeadilan bisa dicapai, tepat di pundaknya.
Konsep inilah yang dipahami perempuan bernama asli Roostien. Sejak 23 tahun yang lalu, Ia mengabdikan dirinya pada anak-anak jalanan yang hampir 99 persen menjadi pekerja sektor informal. Keaktifannya di kegiatan sosial dimulai sejak berkenalan dengan Ibu Nasution yang merupakan isteri (alm) Jenderal TNI A.H. Nasution. Bu Nas—sapaan Ibu Nasution— yang mengajarkan kepada Roostien bahwa masalah sosial itu bersifat universal, bukan cuma hadir di Indonesia saja tapi di semua negara.
Langganan:
Komentar (Atom)