Biar saja ku tak seindah matahari...
Tapi selalu ku coba menghangatkanmu...
Merah Putih Teruslah kau berkibar...
Di ujung tiang tertinggi, di Indonesiaku ini...
Sepenggal lirik lagu Cokelat di atas sangat tepat untuk menggambarkan upacara bendera yang dilakukan anak-anak pemulung di Ciputat serta anak-anak kolong jembatan Jelambar binaan Roostien Ilyas dari Yayasan Nanda Dian Nusantara pada Sabtu, 21 Mei kemarin.
Foto: IstimewaFoto: IstimewaSejak pagi hari, mereka telah bersiap-siap mengikuti upacara bendera untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional di bawah kolong jembatan tersebut. Tak heran, anak-anak pemulung dari Ciputat rela datang jauh-jauh ke lokasi upacara.
Berbekal pakaian seadanya, bocah-bocah ini mengikuti upacara bendera. Rasa kantuk yang menyergap mereka buang jauh-jauh demi suksesnya upacara. Sementara para petugas upacara terlihat semangat dalam menjalankan tugas. Padahal, mereka hanya mengenakan baju seragam biasa.
Mengenai bawahan, jangan ditanya, mereka hanya memakai celana pendek yang dianggap layak dikenakan. Kaki pun tidak mereka balut dengan sepatu. Lalu lalang mobil di atas jembatan dan rasa panas dari terik matahari yang menembus jembatan juga tak mereka hiraukan. Ini tentu sangat kontras dengan pemandangan di seberang mereka yang dikelilingi bangunan megah seperti mal. Bagi mereka, yang terpenting bisa mengibarkan sang saka Merah Putih di bawah kolong jembatan saat memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
Anak-anak mendapat roti dari ibu ahli masak SiskaAnak-anak mendapat roti dari ibu ahli masak SiskaSelain anak-anak pemulung dan kolong jembatan yang bertugas, Wakil Camat Grogol, Mujianto didaulat menjadi pembina upacara. Upacara dihadiri oleh pelaku sosial, Hermawan Sulistyo, ahli tata boga terkenal Sisca Soewitomo, salah satu personil Panbers, Benny Panjaitan dan orangtua anak-anak pemulung serta kolong jembatan. Tak ketinggalan beberapa orangtua dari anak-anak yang memberi hiburan turut andil.
Petugas pembawa sang saka Merah Putih sendiri dipegang oleh Leni Sentiya, sedangkan petugas penaik bendera dilakukan Susilawati dan Indah Sari. Ketiganya menggunakan pakaian seragam sekolah dasar. Maklum, mereka bertiga merupakan anak-anak kolong jembatan yang menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Grogol. Hanya, mereka berbeda kelas. Menurut ketiganya, untuk menjadi petugas upacara dilatih selama lima hari.
Foto: IstimewaFoto: IstimewaTak ayal, saat upacara berlangsung langkah kaki mereka sangat mantap. Tubuh mereka berdiri tegap serta tatapan mereka tajam ke depan. Meski begitu, ketika mengibarkan sang Merah Putih, ketiganya mengaku merasa deg-degkan lantaran takut tak bisa mengemban tugas tersebut. Namun, semua berjalan lancar dan mereka sukses melaksanakannya.
Kedepan, mereka siap mengibarkan bendera Merah Putih kembali bila dipercaya. Saat bendera Merah Putih dikerek, lagu Indonesia Raya pun bergema diatas kolong jembatan. Baik orangtua maupun anak-anak yang mengikuti upacara turut menyanyikan lagu kebangsaan tersebut.
Usai menaikkan bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara berlanjut ke pembacaan Pancasila, pidato pembina upacara dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Rangkaian upacara ditutup oleh doa yang dibacakan Arifin Djunaidi. "Dengan menjalankan upacara di bawah kolong jembatan, kita berharap anak-anak pemulung dan kolong jembatan tetap optimis walau tinggal di tempat seperti ini," ucap Roostien Ilyas.
Roostien Ilyas dari Yayasan Nanda Dian Nusantara memberi sambutanRoostien Ilyas dari Yayasan Nanda Dian Nusantara memberi sambutanWalau upacara selesai, tapi acara masih berlanjut. Anak-anak pemulung dan kolong jembatan mendapat hiburan berupa tari-tarian semut, nyanyian dari Benny Panjaitan, lagu-lagu yang dinyanyikan anak jalanan Muhammad Anas serta pertunjukkan seni bela diri dari Inkai. Inkai mengajak anak didiknya yang beprestasi di tingkat nasional maupun internasional untuk unjuk kebolehan dihadapan anak-anak pemulung dan kolong jembatan.
Mereka memperagakan ilmu bela diri karate di nomor Kata dan Komite. Melihat aksi anak-anak Inkai, anak-anak pemulung dan kolong jembatan takjub. Mereka ingin pula menguasai jurus-jurus tersebut. Menurut pelaku sosial, sekaligus Sekjen Inkai Hermawan Sulistyo atau biasa disapa Kikiek, anak-anak pemulung dan kolong jembatan bisa seperti anak-anak Inkai kalau mau berlatih secara disiplin. Inkai pun bersedia melatih mereka.
Tak kalah seru adalah penampilan Benny Panjaitan. Walau menggunakan kursi roda, Benny tetap memberikan hiburan kepada mereka. Benny membawakan lagu hitsnya berjudul Gereja Tua. Seluruh yang hadir, turut larut dalam nyanyian Benny. Anak-anak pemulung dan kolong jembatan pun semakin bertambah bahagia setelah mendapatkan kue buatan Sisca Soewitomo.
sumber: tnol.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar