Minggu, 10 November 2013

Roostien Ilyas : Malaikat Tanpa Sayap

Jakarta, Bisnis Global (Edisi April 2013) - Di semesta ini, selain manusia, jin, setan, dan makhluk lainnya, Tuhan juga menciptakan malaikat. Makhluk yang terbuat dari cahaya ini memang diciptakan untuk patuh pada perintah Tuhan. Pun dengan Roostien Ilyas. Perempuan kelahiran Madura ini bak malaikat yang menyinari jalan anak-anak jalanan.

Anak adalah aset negara. Dan pendidikan adalah warisan yang sangat mahal yang harus diserahkan kepada anak-anak. Maka, jika kelak anak-anak menjadi pemuda, sesungguhnya di situlah harapan negara yang berkeadilan bisa dicapai, tepat di pundaknya.

Konsep inilah yang dipahami perempuan bernama asli Roostien. Sejak 23 tahun yang lalu, Ia mengabdikan dirinya pada anak-anak jalanan yang hampir 99 persen menjadi pekerja sektor informal. Keaktifannya di kegiatan sosial dimulai sejak berkenalan dengan Ibu Nasution yang merupakan isteri (alm) Jenderal TNI A.H. Nasution. Bu Nas—sapaan Ibu Nasution— yang mengajarkan kepada Roostien bahwa masalah sosial itu bersifat universal, bukan cuma hadir di Indonesia saja tapi di semua negara.

Berangkat dari perjalanan yang diceritakan Bu Nas, Roostien mulai membuka mata hatinya untuk anak jalanan. Semula yang ditangani Roostien bukan anak jalanan, melainkan para pelacur. Hampir setahun—sejak dimulainya tahun 1989— Roostien “nongkrong” di Kramat Tunggak, tempat para pelacur yang berlokasi di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saat itu, terdapat 1.800 pelacur di sana. Hampir semuanya berpendidikan Sekolah Dasar. Mereka umumnya berasal dari keluarga miskin di daerah Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura). Pada saat itu, belum ada penanganan pelacur secara komprehensif. Yang ada hanya penyediaan lokalisasi.

Roostien pun merasa memerlukan teknik pendekatan pemecahan masalah, yaitu dengan memberikan masukan kepada mereka dan mengembangkan wacana untuk mencari jawaban mengenai untung-ruginya menjadi pelacur. Dengan pendekatan seperti ini, wacana tentang dimensi-dimensi negatif pelacuran sangat mereka pahami. Tetapi, bila masalah perut sudah bicara, anak harus dihidupi dan sebagainya, pada akhirnya, pekerjaan melacur tetap menjadi satu-satunya pilihan.

Dari kenyataan di lapangan seperti itulah, Roostien merasa gagal. Masalah pelacuran ternyata jauh lebih kompleks dan sulit dipecahkan daripada yang dibayangkan semula. Belum lagi, lokalisasi di Kramat Tunggak dibubarkan pemerintah. Lengkap sudah.

“Saya adalah orang yang paling marah keti ka lokalisasi itu diberangus. Berdusta kita sama Tuhan kalau lokalisasi ditutup, lonte ikutan berkurang. Lokasisasi bukan legalisasi. tapi itu tempat mengobati luka supaya nggak ke mana- mana. Di Jakarta lokalisasi sudah tidak ada, tapi lonte ada di mana-mana. Nilai tingkat HIV naik, karena mereka jemput bola. Kalau dilokalisasi disuntik, ada rehabilitasi, sekarang dilepas, jadinya mereka menyebar,” kata Roostien saat ditemui Bisnis Global di kawasan Grogol, Jakarta, Rabu (13/3/2013).

Tapi bukan Roostien namanya jika tak bisa memutar otak. Penanganan pelacur harus dilihat bukan sebagai penanganan akibat, tapi penanganan yang menekankan pada pencarian sebab mengapa menjadi pelacur dan bagaimana keadaan suami dan anak-anaknya jika si ibu melacur?

Dari situlah kemudian Roostien berpikir, mengapa tidak menangani kasus-kasus pelacuran melalui cara-cara pencegahan yang bersifat preventif edukatif. Dan baginya, penanganan tersebut harus dilakukan pada anak-anak. Sebab anak adalah harapan, masa depan negeri ini.

Terdesak oleh keadaan itu, lahirlah Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN). Yayasan yang didirikan tahun 1990 ini fokus menangani problema anak jalanan yang menjadi pekerja sektor informal. “Saya tangani anak secara preventif edukatif. Mencegah mereka jadi preman, pelacur, dan yang nggak benar lainnya,” kata Roostien.

Suatu kali di lampu merah, Roostien melihat seorang anak mengelap mobil yang sedang menunggu lampu hijau menyala, sedangkan dari dalam mobil, dirinya melihat ibu si anak itu di pojok jembatan sedang mengobrol dan tertawa. Tiga kali dirinya mengitari lampu merah itu untuk mengamati sambil bertanya dalam hati, mengapa sang ibu tega menyuruh anaknya bekerja, mengelap mobil, sedangkan sebagai orangtua, malah bersantai? Akhirnya, jawaban mencengangkan sekaligus menyentuh hati Roostien terlontar dari mulut ibu sang anak. Sambil menatap Roostien, ibu itu berkata, “Sampeyan itu kalau nggak ngerti, nggak usah ngomong! Kalau saya yangngemis, nggak sesen pun akan dapat uang. Sedangkan kita harus makan, kan anak ini punya adik yang masih kecil-kecil, dua orang! Jadi ya sudah, biar dia yang ngemis, kalau saya yang ngemis, nggak akan dapat uang. Kalau saya nggak sayang sama anak, sudah saya tinggal dia.”

Syahdan, Roostien pun baru mengerti, tindakan sang ibu menyuruh anaknya mengemis adalah cara dia untuk menyayangi darah dagingnya. “Itu adalah bahasa cinta si ibu pada anaknya yang sering kita artikan sebagai bahasa eksploitasi,” tandas Roostien.

sumber: majalahbisnisglobal.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar